Mengapa Ilmu Komunikasi (Masih) Penting Dipelajari Di Bangku Kuliah?

Ada sebuah pertanyaan mahasiswa semester 2 di kelas yang membuat saya terdiam sejenak.  Pertanyaan yang sederhana ini membuat saya kembali membuka buku referensi, “mengapa orang yang kuliah komunikasi belum tentu bisa berkomunikasi dengan baik?”

Para praktisi komunikasi menyebut komunikasi yang baik sebagai komunikasi yang efektif. Komunikasi bisa dikatakan efektif dan berhasil manakala tujuan dan keinginan orang yang berkomunikasi (komunikator) tercapai, serta hubungan dengan lawan bicaranya atau penerima pesannya (komunikan) tetap atau bahkan lebih baik.

Komunikasi yang kita lakukan sehari-hari belum tentu efektif. Artinya, tidak semua komunikasi yang terjadi berjalan efektif karena faktanya tidak ada cara yang ‘ideal’ untuk berkomunikasi seperti yang dikatakan oleh Adler dan Ronan dalam bukunya Understanding Human Communication (2006):

“Your own experience shows that a variety of communication styles can be effective. Some very successful people are serious, whereas others use humor; some are gregarious, whereas others are quiet; and some are straightforward,whereas others hint diplomatically. Just as there are many kinds of beautiful music and art, there are many kinds of competent communication” (Adler dan Ronan, 2006, hal. 18).

Kedua penulis tersebut menyatakan anda mungkin pernah merasakan komunikasi yang efektif dengan pendekatan-pendekatan tertentu. Ada yang berhasil berkomunikasi dengan serius, namun ada juga yang humoris; ada yang ekspresif, ada juga yang berhasil dengan diam; atau ada yang langsung ke inti pembicaraan, namun ada pula yang diplomatis. Keragaman pendekatan ini ditentukan oleh kompetensi komunikasi masing-masing komunikator.

Menurut Adler dan Ronan (2006), kompetensi komunikasi adalah kemampuan mengidentifikasi pendekatan komunikasi mana yang terbaik dalam situasi yang sedang dihadapi. Pendekatan yang efektif dalam situasi tertentu belum tentu berhasil dalam situasi yang lain. Oleh karena itu, kompetensi komunikasi harus fleksibel.

“Candaan yang biasanya sering anda lontarkan kepada rekan anda bisa jadi sensitif dan melukai saat ia sedang mengalami masalah pribadi. Bahasa yang sering anda gunakan bersama teman-teman bisa jadi akan membuat keluarga anda marah,” kata Adler.

Kompetensi komunikasi dapat ditingkatkan

Beruntung, kompetensi komunikasi dapat ditingkatkan. Adler dan Ronan menyebut kompetensi komunikasi dapat berkembang seiring perkembangan diri.

“Sejalan dengan kedewasaan, pendidikan juga mendorong peningkatan kompetensi komunikasi. Sekalipun tanpa melalui pendidikan, kompetensi komunikasi juga dapat ditingkatkan dengan belajar dari kesalahan serta pengamatan,” kata Adler dan Ronan.

Meskipun kompetensi komunikasi bisa ditingkatkan secara alamiah, belajar komunikasi di bangku kuliah tetap pilihan terbaik. Adler dan Ronan menyebutkan sebuah studi yang dilakukan Rubin dkk pada tahun 1990 yang menyimpulkan bahwa kompetensi komunikasi mahasiswa ilmu komunikasi meningkat tajam selama kuliah. Hal ini juga sekaligus menjawab banyak pertanyaan banyak orang mengapa komunikasi (masih) harus dipelajari di bangku kuliah.

Iklan

What do you think?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s