Studi Kasus

#DebatPilpres2019: Jokowi Unggul Konten, Prabowo Unggul Branding

Debat Pilpres 2019 telah menarik beragam komentar para ahli politik, hukum, HAM, dan terorisme. Tidak kalah menarik, debat Pilpres malam tadi juga bisa ditinjau dari perspektif ilmu komunikasi, khususnya dari segi pesan verbal dan nonverbal, dan branding.

Makna penampilan Capres-Cawapres

Kedua pasangan capres tampil dengan perbedaan gaya yang mencolok. Pasangan 01 tampil dengan kemeja koko berwarna putih. Pak Jokowi mengenakan celana hitam dan Pak Ma’ruf tampil bersarung. Menurut psikologi warna, putih adalah warna kesederhanaan, kemurnian, tidak bersalah, dan minimalis.

Sementara itu, pasangan 02 berbalut jas hitam lengkap berdasi. Jas adalah pakaian resmi dan formal. Jas sering digunakan dalam konteks bisnis dan melambangkan kewibawaan, elit, dan berkelas.

Kedua pasangan pun tidak lupa mengenakan kopiah. Selain sebagai perlengkapan umat Islam, kopiah juga merupakan simbol perjuangan, nasionalisme, dan kebangsaan karena atribut ini lekat dengan para pejuang nasional.

Penyampaian materi debat

Sejumlah pengamat menilai materi debat pasangan 01, meskipun tidak begitu memuaskan, lebih unggul dibanding pasangan 02. Tetapi, saya tidak ingin berkomentar soal konten materi debat.

Dalam sesi debat perdana ini, Pak Jokowi membuka debat dengan menyampaikan visi dan misi selama 2 menit. Ia mengawali paparannya dengan menyapa tokoh-tokoh penting, tetapi memakan waktu hingga setengah durasi yang diberikan. Alhasil, paparan Pak Jokowi yang sangat terstruktur tidak tersampaikan secara keseluruhan karena waktu keburu habis.

Di pihak seberang, Pak Prabowo menyampaikan paparannya tanpa menggunakan teks. Bagi saya, ini sangat beresiko karena paparannya bisa jadi melebar ke mana-mana karena tidak ada ‘teks’ yang memandu paparannya. Pesan yang saya tangkap sebagai audiens pun mengambang, kurang jelas.

Dari segi data, tim debat pasangan 01 berhasil memenangkan kepercayaan saya sebagai audiens. Dalam sesi tanya jawab antar paslon, Pak Jokowi mengajukan pertanyaan kepada pasangan lawan dengan merujuk pada sumber Indonesian Corruption Watch (ICW), lembaga independen yang notabene keras terhadap pemberantasan korupsi. Di pihak oposisi, argumen dan narasi yang dibangun masih terkesan “klaim” saja karena tidak menyebutkan sumber.

Kedua pasangan capres juga sebaiknya memanfaatkan waktu yang ada, khususnya untuk paslon 01. Banyak waktu yang tidak dimanfaatkan padahal seharusnya bisa dimanfaatkan dan pembagian peran sebaiknya merata sehingga tidak terkesan ‘one man show.’ Prabowo-Sandi unggul dalam memainkan peran karena saling bergantian menjawab dan Sandi tampil menambahkan argumen-argumen Pak Prabowo. Pembagian peran yang cukup harmonis. Ditambah lagi dengan Sandi yang sangat aktif mengulang frase “Prabowo-Sandi” di setiap kesempatan dalam setiap segmen.

Komunikasi nonverbal

Kedua paslon menampilkan karakter komunikasi yang berbeda. Di segmen-segmen awal, kedua paslon masih bermain aman. Sangat mengendalikan situasi. Namun ditengah jalan, Pak Ma’ruf nampak dari kamera sibuk dengan kertas contekannya pada saat Pak Jokowi menjawab pertanyaan undian.

Lain halnya dengan paslon lawan, Prabowo-Sandi tidak nampak sibuk dengan kertas contekan. Bahkan dalam satu kesempatan, Sandi berhasil menangkap perhatian saya saat merespon lawannya dengan teknik “story telling.”

Memasuki penghujung acara debat, suasana terasa lebih panas. Saya melihat Pak Jokowi melontarkan pertanyaan tentang korupsi dengan sedikit terbawa kesal atau marah, sedangkan kubu Pak Prabowo lebih santai dalam debat ini. Atraksi Prabowo yang “berjoged” dan Sandi memijat saat moderator melarangnya memotong waktu Pak Jokowi, berhasil mencairkan suasana dan mencuri perhatian audiens. Tidak heran apabila momen ini akan menjadi meme yang akan beredar di masyarakat.

Kedua pasangan tidak memanfaatkan momen “memuji pasangan lawan” dengan baik. Pak Jokowi menutup debat dengan menegaskan kembali pesan politiknya, tanpa memberikan apresiasi kepada pihak lawan. Padahal, moderator memintanha untuk memberikan apresiasi kepada lawan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pak Prabowo. Seandainya Pak Prabowo memberikan apresiasi kepada kubu lawan yang tidak menunjukkan apresiasi kepadanya, ia akan memenangkan simpati lawan.

Saat dua kubu berdebat, sisipkan satu dua kalimat menyejukkan sebagai bentuk apresiasi kepada lawan, misalnya:

“Terima kasih kepada Pak Prabowo-Sandi atas seluruh gagasan dan argumennya. Silahkan rakyat memilih sesuai hati nuraninya.”

Dari debat pilpres perdana ini, paslon 01 unggul dari segi materi debat dan paslon 02 unggul dari segi branding dan komunikasi nonverbal.


Mohammad Shihab adalah pengajar dan praktisi di bidang ilmu komunikasi dan public relations. Lihat profilnya lebih lanjut.

What do you think?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.