Pengalaman Magis Melukat, Ritual Pembersihan Jiwa Di Griya Beji Waterfall

Bali dikenal sebagai pulau dewata yang penuh dengan atraksi wisata dan kearifan budaya lokal. Salah satunya adalah melukat, sebuah ritual pembersihan jiwa dalam tradisi agama Hindu Bali.

Ritual melukat biasanya dilakukan secara beramai-ramai di momen hari raya Nyepi, hari-hari besar Hindu, dan hari-hari baik. Tujuannya adalah untuk membersihkan jiwa raga dari segala kekotoran pikiran dan hati.

Dalam rangkaian touring motoran ke Bali Agustus 2025 yang lalu, saya mendapat rekomendasi dari mantan mahasiswaku di President University untuk mencoba melukat di Taman Griya Beji Waterfall, Badung, Bali.

Setelah motoran melintasi jalan raya Singaraja dan Kintamani, saya pun mengarah ke wilayah Badung menyusuri jalanan pedesaan yang asri dan wangi campuran kembang sesajen warga.

Saat itu badan saya cukup lelah setelah motoran dari Solo lebih dari 10 jam. Tidur malam sebelumnya juga kurang berkualitas karena hanya tidur ngemper di masjid depan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Setiba di Taman Griya Beji Waterfall, saya langsung menuju resepsionis untuk mendaftarkan diri. Sebelumnya, saya sudah booking reservasi melalui WA karena khawatir antriannya penuh.

Benar saja, banyak turis mancanegara yang antre di depan resepsionis.

Saat membuat reservasi, admin bertanya identitas saya. Apakah saya turis domestik atau internasional? Hindu atau non-Hindu?

Karena mungkin ada perbedaan ritual untuk umat Hindu dan non-Hindu, saya jawab saya turis ber-KTP Jawa Barat dan muslim.

Admin kemudian memberikan beragam pilihan paket-paket melukat. Saya memilih paket melukat yang paling basic dan paling murah.

Dengan 200 ribu rupiah, saya sudah mendapat:

  1. Minuman kesehatan
  2. Ragam sesajen canang, dupa, dan rarapan
  3. Dua jenis kelapa muda
  4. Sarung/kamen, selendang, dan handuk
  5. Fasilitas loker dan shower
  6. Pemandu dan dokumentasi sinematik

Setelah registrasi di resepsionis selesai, saya langsung berganti pakaian menggunakan sarung dan selendang di pinggang. Kemudian, pemandu menyiapkan beberapa paket sesajen kecil dan meminta saya untuk membawanya dalam satu wadah.

Pemandu memiliki peran yang cukup penting. Selain memandu proses melukat, pemandu juga membantu saya mendokumentasikan pengalaman ini dengan foto dan video sinematik.

Proses Melukat, ritual pembersihan jiwa

Proses melukat dimulai dengan menaruh sesajen di sekitar simbol dewa penjaga seraya meminta izin dan berdoa. Menurut pemandu, tempat prosesi melukat ini ibarat sebuah “rumah” yang memiliki ruang-ruang, seperti teras, ruang tengah, kamar-kamar, dan sebagainya. Setiap “ruang” ini dijaga oleh dewa yang berbeda-beda.

Saya sempat membatin ketika disuruh minta izin dan berdoa kepada dewa. Bagaimana caranya? Saya harus bilang apa?

Akhirnya karena saya seorang muslim saya pun membaca “bismillahirrahmannirrohim” dan salawat nabi secara lirih.

Kemudian, saya menyusuri lorong-lorong batu alami yang dialiri percikan air terjun. Pemandu meminta saya membasuh wajah, badan, dan meminum airnya. Akhirnya, sekalian saja saya membasuh badan sekaligus wudhu.

Setelah sampai di air terjun utama, pemandu meminta saya untuk berteriak sekeras-kerasnya di depan air terjun. Melepaskan segala emosi yang terpendam di hati sambil membasuh wajah dan badan. 

Kemudian di sudut yang lain, saya diminta untuk tertawa selepasnya. Mengingat kembali momen-momen lucu bahagia agar hidup kita selanjutnya menjadi lebih bahagia.

Sebelum ritual ini berakhir, pemangku memberikan saya air tirta untuk membasuh muka, berkumur, dan diminum. Sumpah, itu air terenak yang pernah saya cicip seumur hidup! 

Saya belum pernah mencicipi rasa air kelapa yang seperti itu. Rasanya manis segar mirip air kelapa.

Selanjutnya, pemandu mengusapkan minyak dan memberikan saya gelang tridatu. Katanya, gelang itu jangan dilepas sampai dia terlepas atau putus sendiri. Inilah akhir dari proses melukat.

Setelah berganti pakaian, saya menikmati suguhan minuman rempah tradisional di kafenya.

Magisnya efek melukat

Setelah melukat saya merasakan ada hal yang berbeda. Rasa lelahku setelah motoran berjam-jam hilang. Padahal hari itu benar-benar capek dan ngantuk.

Badan jadi lebih enteng. Nafas terasa lebih plong dan pikiran lebih tenang. Tidak terasa ada yang mengganjal di dalam hati yang bikin nyesek.

Saya merasa penuh energi positif. Rasanya seperti mau menyapa dan memeluk setiap orang yang papasan dengan saya di sepanjang jalan. Vibesnya positif banget, magical!

Apa yang saya rasakan ini persis seperti kata si mantan mahasiswaku, “nanti badan terasa lebih enteng, awas ketagihan!”.

Wajar saja kalau melukat menjadi salah satu terapi kecemasan bagi warga di Bali. Dalam sebuah riset di desa Bungkulan, melukat terbukti dapat menurunkan kecemasan ibu hamil menjelang persalinan.

Melukat di Taman Griya Beji Waterfall tidak boleh kamu lewatkan kalau ke Bali. Dengan biaya yang cukup terjangkau kamu bisa menikmati magisnya melukat.

Selamat mencoba!

What do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.