Hari ini saya ikut merayakan Imlek, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Saya bukan Tionghoa dan saya seorang muslim. Tetapi hari ini saya duduk di meja makan keluarga Tionghoa, menyaksikan tawa, doa, makanan, dan simbol-simbol penuh makna.
Tiba di rumahnya, saya disuguhi kue lapis dan jeruk. Camilan ini wajib ada dalam momen Imlek. Kue lapis melambangkan rezeki yang berlapis-lapis dan jeruk bermakna kemakmuran.
Tidak hanya pada makanan, harapan di tahun yang baru juga tercermin dari warna-warna Imlek yang identik dengan warna cerah. Saya hari ini memakai kemeja kuning yang melambangkan kesuksesan dan kebahagiaan dalam budaya Tionghoa.
Dalam momen Imlek ini, warga Tionghoa saling berbagi berkat kepada saudara dan kerabat. Bertukar salam “Kiong Hie”, yang bermakna selamat berbahagia dalam bahasa Hokkien. Kurang lebih sama seperti “minal aidin walfaizin” saat umat muslim berlebaran.
Bagi yang beruntung dan memenuhi syarat, kamu akan mendapat angpau. Angpau biasanya diberikan oleh orang tua kepada anak, keponakan, dan kerabat yang masih kecil atau yang belum menikah.
Saya termasuk yang masih memenuhi syarat mendapatkan angpau. Sebelum menerima angpau, saya mengucapkan salam Kiong Hie sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada sambil sedikit membungkuk.
Menurut tradisi Tionghoa, laki-laki mengepalkan tangan kanan dan membungkusnya dengan telapak tangan kiri, sementara perempuan melakukan sebaliknya.
Pada laki-laki, tangan kiri melambangkan kejantanan dan tangan kanan melambangkan feminin. Posisi Kiong Hie pada laki-laki bermakna laki-laki sebagai pelindung dan pengayom perempuan.
Ketinggian tangan di depan dada saat Kiong Hie juga memiliki makna yang berbeda. Kepada saudara dan kerabat yang sebaya posisi kiong hie bisa setinggi dada, sedangkan kepada orang yang lebih tua posisi kiong hie bisa lebih tinggi sebagai tanda menghormati.
Pengalaman merayakan imlek ini membuka wawasan saya tentang budaya Tionghoa yang penuh dengan simbol penuh doa dan makna. Walau bukan orang Tionghoa, saya mendapat sambutan yang hangat dari keluarga yang saya kunjungi ini.
Imlek tahun 2026 ini sangat unik karena dirayakan menjelang bulan suci Ramadan. Semoga ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk bisa meningkatkan semangat toleransi dan menerima perbedaan.

