Memaknai Film Sore: Istri Dari Masa Depan

“Jika harus mengulang ratusan kali pun, aku akan tetap memilih menonton film Sore”

Banyak orang melihat diriku sebagai orang yang bebas tanpa beban. 

“Shihab sih enak. Umur 35 tahun masih belum menikah. Penghasilan dinikmati sendiri, ga ada tanggungan, apa yang dia pikirin?”

Mungkin tidak banyak yang tahu juga di balik itu saya adalah penyintas hubungan yang posesif, keras secara fisik dan verbal. Pengalaman ini berdampak pada diriku secara internal dan hubungan asmaraku setelahnya.

Luka itu kali ya yang bikin pengalaman magis sewaktu saya menonton film Sore: Istri Dari Masa Depan. Sampai tulisan ini dirilis, saya sudah pernah menonton film itu dua kali dalam 24 jam.

Entah kenapa seperti ada rasa mau nonton film itu terus-terusan. Rasanya hangat dan teduh waktu menonton Sore, dengan segala usahanya mencintai suaminya, Jonathan, hingga menembus ruang waktu.

Trailer film Sore: Istri Dari Masa Depan

Tapi saya tidak mau bahas bagaimana filmnya. Hanya bisa bilang ini film terbaik, terindah, terhangat yang pernah saya tonton.

Pertama kali menonton, saya terlalu fokus pada karakter Jonathan. Jonathan adalah seorang fotografer dengan gaya hidup yang kurang sehat. Ia juga menyimpan luka batin dari papanya. 

Inilah yang membuat Sore: Istri Dari Masa Depan kemudian datang melintasi ruang waktu untuk menemani, membantu memperbaiki hidup Jonathan, hingga nanti berkenalan kembali dengan Sore pada waktunya.

Secara emosional saya merasa terhubung dengan karakter Jonathan ini. Merasa baik-baik saja padahal di dalam batinnya tidak.

Melakukan sesuatu sesuai kemauannya, tapi tanpa arah. Menjalani hubungan pacaran tapi penuh beban.

“Lho, kok perasaannya mirip”, batinku. 

Kebayang lagi dulu waktu dikerasi bertahun-tahun. Saya disuruh berubah pakai cara yang sulit saya terima. Mau ngungkapin perasaan sendiri aja rasanya mampet ketahan waktu itu.

Kekerasan waktu itu tidak terasa seperti bentuk rasa sayang. Malah lebih terasa mengekang. Tidak bisa bergerak, tidak bisa berkembang.

Padahal, sekeras-kerasnya manusia dia tetap butuh kelembutan. Kelembutan itu terasa banget di dalam akting Sheila Dara di film ini. Anget banget!

Waktu menonton film ini rasanya dalam hati, “duh saya pengen lho dilembutin seperti ini.” 

Saya setuju dengan pesan di dalam film ini bahwa laki-laki berubah bukan karena rasa takut, tapi karena merasa dicintai.

Entah perasaan campur aduk apa yang masih tertinggal setelah nonton film ini. Akhirnya belum genap 24 jam saya kembali ke bioskop untuk menonton film ini lagi. Bedanya kali ini saya menonton sendiri.

Kali kedua ini saya coba fokus memahami POV Sore. Apa yang membuat dia melintasi waktu demi bertemu dengan Jonathan?

Scene demi scene saya coba cerna. Sore seakan berusaha untuk memperpanjang umur Jonathan dengan memperbaiki gaya hidupnya. Namun, usahanya selalu gagal, sehingga ia harus memulai lagi dari awal berkali-kali.

Setiap pengulangan waktu tersebut, Sore mencoba mencari cara agar linimasanya terus berlanjut sebagaimana yang dia harapkan. 

Sore lupa bahwa semua ada masanya. Kalau sudah tiba masanya, semua akan terjadi. Kalau belum waktunya, maka tidak akan terjadi.

Saya juga suka dengan pesan Marko kepada Sore bahwa ada tiga hal yang tidak bisa kita ubah: masa lalu, rasa sakit, dan kematian. Selain tiga hal itu semua bisa berubah, termasuk manusia.

Setelah itu, Sore pun tidak lagi memaksakan kehendaknya kepada Jo. Ia berkomitmen untuk setia mendampinginya apapun kondisinya, kapan pun dia siap.

Sore hadir dalam hidup Jonathan bukan untuk menguasainya, mengatur setiap gerak-geriknya, atau menekan dirinya. Ia hadir sebagai pendamping yang sabar, menuntun dengan empati, bukan dengan tekanan.

Sebagai penyintas hubungan posesif, saya melihat dalam Sore bentuk cinta yang selama ini mungkin saya dambakan. Cinta yang tidak mengancam, tidak menyalahkan, dan tidak membuat saya merasa kecil.

Saat itu juga saya tersadar bahwa saat ini ada lho perempuan yang selalu sabar menghadapi orang seperti saya.

Akhir kisah Jonathan dan Sore menyiratkan bahwa tidak semua hal bisa dipertahankan. Kadang, yang terbaik adalah melepaskan dengan kasih.

Film ini membuat saya menangis dalam hati. Bukan hanya karena kisahnya indah, tapi karena Sore memperlihatkan cinta yang tidak merampas, tidak menghakimi, dan tidak menyiksa.

Film ini juga menegaskan kembali bahwa segala hal akan berjalan pada waktunya masing-masing.

What do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.