Kesan Ikut Misa Katolik: Sejuk, Teduh, Syahdu

Puluhan ribu umat Katolik mengikuti misa agung yang dipimpin langsung oleh Paus Fransiskus, sang pemimpin tertinggi, di kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Kamis petang, 5 September 2024.

Rangkaian misa ini juga disiarkan secara langsung di sejumlah TV nasional dan media online.

Saya turut bahagia dan ikut terharu melihat teman-teman dan kolega Katolik saya begitu antusias menyambut pemimpin Katolik dunia Paus Fransiskus selama di Indonesia.

Apalagi bagi mereka yang mendapat kesempatan mengikuti misa agung di Jakarta tentu saja menjadi pengalaman yang belum tentu dapat terulang kembali.

Dari layar HP, saya turut menyaksikan sebagian rangkaian misa agung ini. Saya kagum melihat bagaimana panitia menyiapkan acara akbar ini.

Para umat benar-benar bisa duduk dengan rapi dan tertib. Koordinasi antara umat dan panitianya seperti sudah sering event bareng, sudah sefrekuensi.

Crowd control-nya harus diacungi jempol sih ini. Bahkan, area tanding timnas sepakbola pun bisa tetap steril.

Padahal kalau mau dipikir ini mungkin kesempatan sekali seumur hidup mereka bisa ketemu Bapa Fransiskus secara langsung. Tapi, semua bisa terkendali, rapi, dan kondusif.

Saya bisa merasakan antara umat dan panitia di Gelora Bung Karno frekuensinya sama:

“Ini misa sekali seumur hidup, belum tentu ada lagi ya, jadi ayo kita tertib dan khidmat.”

Di layar kaca, semua umat tampak antusias dan bahagia. Cantik sekali!

Karena penasaran dengan prosesi misa, saya pun pernah beberapa kali nyempil ikut upacara sakramen pernikahan Katolik, misa  perayaan ekaristi, dan misa malam Natal.

Misa-misa itu saya ikuti di beragam gereja dan kapel Katolik, di antaranya di sebuah desa di Yogyakarta, Semarang kota, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Cikarang.

Dari misa-misa yang saya ikuti itu, ada rasa kesejukan, keteduhan, dan kesyahduan yang berbeda bagi saya seorang muslim.

Hampir di semua gereja yang pernah saya masuki rasanya sejuk, adem. Bukan hanya karena desain bangunan dan AC-nya yang bikin adem, tapi juga umatnya bertutur lembut.

Sayangnya, kalau di gereja Katolik di Lippo Cikarang umatnya masih kepanasan karena ibadah mereka masih menumpang di sebuah gedung bekas sekolah.

Gerejanya sendiri baru mulai dibangun tahun 2024 ini setelah hampir 20 tahun perizinannya mandeg.

Meski demikian, kondisi itu tidak menyurutkan semangat ibadah teman-teman Katolik di sana.

Di setiap misa yang saya saksikan, umat duduk dan berbaris rapi. Tidak terdengar suara berisik anak-anak. Semua tunduk berdoa menanti ibadah misa dimulai. Teduhlah lihatnya.

Nah, misa Katolik yang pernah saya ikuti semua rasanya syahdu. Romonya memimpin ibadah dengan senandung nada yang lembut.

Kotbahnya menyampaikan pesan kedamaian. Tidak ada sedikitpun merendahkan umat lain, apalagi menyinggung isu politik. Syahdulah pokoknya.

Paduan suaranya juga menyanyikan puji-pujian dengan merdu. Ditambah dengan dukungan sound system internal yang suaranya jernih bening.

Tidak ada suara kresek-kresek atau bunyi “ngiiing” karena feedback. Asli, semua suara yang masuk di microphone terdengar lembut.

Tidak ada cempreng-cemprengnya!

Saya sendiri kadang sampai miris sendiri, kenapa ya banyakan masjid atau musolah rasanya tidak seperti ini?

Saya juga ingin masjid dan musolah bisa tertib dalam menggunakan speakernya. Tidak hanya tertib, tapi juga pakai speaker yang bagus, agar tidak menjadi polusi suara.

Saya senang mempelajari ritual-ritual kepercayaan selain Islam. Sebelum ikut misa Katolik, saya juga pernah ikut masuk ke area pura Hindu di Palu menemani kawan yang ingin berdoa.

Tapi, saya tidak bisa ikut masuk ke area suci tempat mereka berdoa dan saya menghormati batasan-batasannya.

Dengan nyempil dalam ibadah umat agama lain, saya merasa senang bisa menggali bagaimana cara mereka memandang Tuhan dan bagaimana mereka memaknai setiap aktivitas ibadahnya.

Berikutnya, saya berharap bisa nyempil dalam prosesi ibadah Hindu, Buddha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya, terutama dalam ibadah perayaan-perayaan hari sucinya.

Mohon bimbingannya ❤️

What do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.