Cerita pengalaman motoran sendiri ke Solo, Yogyakarta, dan Dieng

Motoran Sendirian: Menaklukkan Rute ke Solo, Yogyakarta, dan Dieng

Traveling sendirian bagi saya adalah hal yang biasa. Biasanya sih naik bus atau kereta api biar tidak capek. Tapi, tidak pernah terbayangkan saya berani traveling sendirian ke Solo, Yogyakarta, dan Dieng naik motor sendirian.

Setelah sibuk mengurusi upacara pelantikan Profesor Retnowati di President University, saya mengambil cuti untuk solo touring ke Dieng. Ini menjadi pengalaman pertama saya motoran sejauh lebih dari 500 kilometer.

Rabu, 29 Mei 2024, sekitar jam 5.30 pagi saya sudah memacu motor ADV 150 meninggalkan rumah di wilayah Jonggol, Kab. Bogor. Rencana awal tujuannya adalah Purwokerto, sebuah kota di Jawa Tengah yang dapat ditempuh dalam 10 jam perjalanan nonstop versi Google Map.

Namun, saya akhirnya memutuskan untuk main ke Solo sekalian menjenguk sahabat lama. Saya melintasi jalur Pantura, melewati kota Semarang, dan Salatiga. Perjalanan motoran ke Solo ini berhasil saya tempuh selama 14 jam. Pundak terasa kaku dan bokong terasa panas.

Motoran melintasi jalan raya Pantura bagi saya melelahkan dan membosankan. Panas terik matahari beradu dengan panasnya mesin dan knalpot truk-truk besar yang berlalu lalang.

Jalan raya Pantura juga membuat saya bosan dan mengantuk karena jalanannya yang cenderung lurus. Setiap dua hingga tiga jam saya berhenti untuk mengistirahatkan mata sambil menunggu mesin motor mendingin.

Sampai di Solo, saya menginap di sebuah penginapan Reddoorz. Tapi, sebelum itu saya menghampiri sahabat lama di tempat kerjanya. Dia tidak menyangka saya bisa sampai di Solo naik motor sendirian.

Tidak banyak aktivitas yang saya lakukan di Solo. Saya hanya menghabiskan waktu untuk istirahat, makan, menyusuri jalanan kota, dan menikmati tidur siang di bawah rindangnya pohon di Taman Sriwedari.

Menikmati Museum Ullen Sentalu di Kaliurang

Selepas magrib, usai berpamitan kembali dengan sahabat saya, perjalanan berlanjut ke Yogyakarta. Perjalanan ini hanya dua jam, bagi saya cukup dekat. Jalanannya juga bagus, aspal halus, walaupun sedikit bergelombang di beberapa titik.

Setibanya di Yogyakarta, saya menginap di sebuah homestay dekat Malioboro. Homestay ini memiliki kamar-kamar yang berisi 3-4 ranjang susun dan kamar mandi bersama. Harganya murah tidak sampai 200 ribu rupiah, cukup nyaman untuk harga segitu.

Keesokan harinya, saya pun melanjutkan motoran mengarah ke Dieng. Saya menyusuri jalanan di Kaliurang dan mampir sejenak di Museum Ullen Sentalu. Dari hasil penelusuran saya di Google, museum ini memamerkan artefak-artefak yang dibalut dengan kisah kerajaan Mataram Islam. Cocok untuk saya yang senang sejarah.

Museum Ullen Sentalu sangat rindang, sejuk, dan fotogenik. Museum ini sangat luas, dikelilingi pepohonan rindang, dan tata ruangnya Instagramable. Hanya saja tidak semua area bisa dipakai untuk foto-foto, terutama area di mana artefak dipamerkan. Tujuannya untuk melindungi hak cipta.

Saya hanya perlu membayar 100 ribu rupiah untuk sekali tur. Seingat saya ada tiga jenis tur yang disediakan dengan cerita yang berbeda. Itu pun sudah termasuk minuman kopi dan camilan. Cukup terjangkau dan edukatif!

Dataran Tinggi Dieng Plateau

Setelah puas berfoto, perjalanan saya kemudian berlanjut ke Dieng via Wonosobo. Saya memilih rute Wonosobo karena menurut rekomendasi teman rute ini minim tanjakan ekstrim.

Meskipun disebut minim tanjakan ekstrim, jalur yang saya tempuh melewati jalan aspal yang berliku, menanjak, dan udara yang cukup sejuk di badan saya. Motor harus sehat dan prima, pemotor juga harus pakai jaket tebal agar tidak masuk angin.

Setelah motoran selama kurang lebih tiga jam, saya akhirnya berhasil memasuki wilayah Dieng Plateau. Saya belum pernah melihat panorama seperti Dieng ini.

Dataran tinggi berkabut dengan kebun hijau yang bertingkat-tingkat. Sumpah, cantik banget! Memang benar kata orang, kamu harus ke Dieng minimal sekali seumur hidup.

Karena Dieng ini terletak di dataran tinggi, saya bisa melihat kampung-kampung yang tertutup kabut tipis. Saking cantiknya, saya bahkan sampai muter dua kali sebelum checkin istirahat di homestay.

Jarak antara homestay dan titik nol Dieng sekitar 11 kilometer. Karena saya sampai di Dieng hari Jumat, jalur Dieng masih belum ramai wisatawan.

Aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar penginapan saya berhenti sekitar pukul 8-9 malam. Toko dan warung makan banyak yang tutup jam 8 malam, tapi ada minimarket yang masih buka sampai jam 10 malam.

Malam pertama di Dieng saya manfaatkan untuk beristirahat panjang agar bisa mengejar sunrise di Bukit Sikunir. Bukit Sikunir akan menjadi tempat saya bertemu dengan tetangga rumah yang menyusul saya di Dieng.

What do you think?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.