Pengalaman Berbeda Di Kota Medan

Horas!!! Yes, Medan menjadi kota pertama saya menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Kedatangan saya ke kota legendaris ini untuk mewakili Prodi Ilmu Komunikasi Presuniv di Kongres Ke-4 Asosiasi Pendidikan Tinggi Komunikasi (ASPIKOM) pada 10-12 Mei lalu.

Di sini, saya tentu tidak akan bercerita tentang jalannya kongres. Saya justru excited melihat kota Medan dengan mata kepala saya sendiri dan inilah kota Medan dalam persepsi pertama saya.

Medan nampak sepi

Medan itu sepi. Ya, ini yang terbentuk di dalam persepsi saya ketika mendarat di Bandara Kualanamu. Saya begitu terpesona dengan kemegahannya. Menelusuri setiap koridornya menuju stasiun kereta bandara, saya mengamati sekeliling dan saya merasa bandara ini sangat sepi. Mungkin karena saya membandingkannya dengan bandara Soetta Jakarta. Dengan bandara yang megah dan besar, tidak tampak titik-titik keramaian di lapangan udara dengan kode KNO ini.

Medan itu canggih

Untuk sampai ke tempat kongres, bersama seorang kolega saya menumpang kereta bandara KNO. Dengan harga tiket 100 ribu rupiah, saya disuguhkan dengan pengalaman naik kereta moderen. Seperti di dalam kereta subway yang saya tonton di film-film. Jauh beda dengan commuter line Jabodetabek yang pernah saya tumpangi. Keren!

Bolu Meranti, oleh-oleh semua orang

Kue bolu ini legendaris. Sebelum berangkat, semua yang tahu saya ke Medan minta oleh-oleh bolu Meranti. Karena itu saya coba mendatangi outletnya di jalan Sisingamangaraja. Lumayan ngantri 5 orang sewaktu datang. Harga relatif, tapi saya yakin ada harga ada rasa. Kenapa yakin? Karena di bandara KNO waktu akan kembali ke Jakarta, semua orang nenteng kotak Meranti. Tidak ada lagi nampak Bika Ambon. Mungkin sudah dikembalikan ke kota asal namanya.

Mall di Medan (lagi-lagi) sepi

Waktu itu saya dan rekan membunuh waktu di Mall Centre Point. Waktu saat itu menunjukkan pukul 14.00. Perkiraan saya pusat perbelanjaan ini sebesar gedung timur Grand Indonesia, termasuk terbesar dan terbaru di Medan. Nah, sejauh mata saya memandang tidak ada kerumunan orang, desak-desakan, ataupun antrian transaksi kasir. Rasanya malah justru ramai dengan pramuniaganya.

Medan itu keras bung!

Saya mengamini orang yang bilang Medan itu keras. Naik becak motor atau populernya disebut bentor, kami mencari toko penjual kopi Sidikalang di bilangan Majapahit. Di depan mata kepala saya, supir mobil beradu mulut dengan supir bentor. Mereka saling menegangkan urat leher hanya karena tidak mau didahului untuk belok. Hingga bentor dan mobil saling bersenggolan.

Selain itu juga masih di atas bentor, mendekati jalan Majapahit bentor kami harus melewati perempatan jalan. Saya melihat lampu sudah berwarna merah, namun bentor kami tetap melaju dengan santainya. Tidak heran bunyi klakson pun bersahutan meneriaki kami. Saya hanya heran dan terkesima mendengar kata supirnya. “Ini jalan punyamu bukan? Kalo bukan ya sabar dong, biarkan dulu kita lewat,” kata si pak supir sambil senyum nyengir.

What do you think?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s