Batu Akik, Dari Alam Kembali Ke Alam

Masyarakat Indonesia sedang dilanda demam batu akik. Di toko-toko modern, pasar tradisional, dan bahkan pedagang kaki lima di pinggiran jalan pun seringkali memamerkan koleksi batu akik. Namun, tahukah Anda bahwa batuan akik terbentuk dari proses alami yang panjang dan lama? Berikut ulasannya.

Proses Terbentuknya Batu Akik

Batu akik merupakan salah satu batuan mulia yang terbentuk dari proses alami. Menurut Indyo Pratomo, geolog dari Museum Geologi Bandung dalam Kompas.com, batu mulia terbentuk dari proses geologi seperti diferensiasi magma, metamorfosa, atau sedimentasi.

Batu mulia pada awalnya terbentuk dari aktivitas dapur magma di dalam perut bumi. Magma cair yang panasnya di atas 1.000 derajat celsius ini bergerak mencari ruang dan mengisi retakan-retakan mantel bumi akibat tekanan yang kuat dari perut bumi. Cairan magma panas yang berhasil keluar ke permukaan bumi kemudian akan melarutkan berbagai batuan lain yang telah ada. Maka terjadilah  proses pelarutan atau ubahan hidrotermal.

Ubahan hidotermal dapat mengubah magma cair menjadi batu akibat pendinginan karena suhu permukaan bumi yang lebih dingin. Dalam perjalanan keluar ke permukaan, magma cair tersebut mengisi rekahan dan pori-pori batuan, dan bahkan mengisi fosil kayu sehingga menjadi batu.

“Batuan akik terbentuk oleh tudung-tudung silika atau larutan hidrotermal, yang tidak terlalu jauh dari permukaan. Temperaturnya kira-kira 300 derajat celsius,” kata Sujatmiko, Sekretaris Jenderal Masyarakat Batu Mulia Indonesia (Kompas.com).

Oleh karena itu, Kepala Museum Geologi Sinung Baskoro dalam Detikcom menyebutkan bahwa batu akik yang bagus dapat ditemukan di daerah dekat patahan gempa dan di sekitar daerah gunung berapi aktif. Hal ini pun juga diakui oleh Menteri Kehutanan RI Siti Nurbaya.

“Jadi di daerah yang ada patahan, daerah vulkanik, atau daerah yang banyak ditemukan emas itu hampir pasti di daerah itu banyak gemstone (batu mulia) berwarna-warni,” kata Siti Nurbaya dalam Detikcom.

Mengapa Demam Batu Akik?

Bagi masyarakat awam termasuk saya juga memiliki pertanyaan yang sama, apa yang membuat orang keranjingan batu akik? Junaidi, kolektor batu akik, menuturkan kepada Tempo.co bahwa ketertarikan orang terhadap batu akik bergantung pada imajinasi masing-masing.

“Yang membuat batu ini mahal adalah iming-iming metamorfosis para pemburu batu,” kata Junaidi (Tempo.co).

Misalnya, batu akik bacan. Batuan akik ini berasal dari salah satu jenis mineral hasil laut yang banyak diburu karena dipercaya dapat bermetamorfosis. Warnanya yang hijau pekat lama-kelamaan menyerupai warna zamrud tanpa serat atau berkas di dalamnya. Apabila disorot cahaya, semakin jernih harganya pun semakin tinggi.

“Semakin jernih, semakin mahal,” kata John Marten (Tempo.co).

Demam batu akik diyakini bermula dari ramainya pejabat negara yang memakai batu akik bacan.

“Ya karena pejabat itu pakai batu terus diberitakan, ramai deh jadi omongan,” terang Imron, pedagang batu akik di Bogor (Detikcom).

Masih dari sumber yang sama, batu akik semakin menjadi pembicaraan setelah diberitakan bahwa masyarakat beramai-ramai berburu batu di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Di sana, ada lahan kebun milik seseorang yang ternyata banyak terdapat batu hias yang ditaruh sang pemilik untuk mempercantik taman.

Di luar perkiraan, mereka yang datang ke lokasi itu membludak dari pagi hingga malam, dengan satu tujuan mencari batu akik.

Merusak Lingkungan

Keindahan batuan akik memang menyilaukan mata. Namun, permintaan batu akik yang tinggi dikhawatirkan dapat merusak lingkungan seperti penuturan pegiat lingkungan Muhammad Nur.

“Ketika misalkan struktur tanah yang ditumpangi oleh batu dan kayu, dari atas kemudian, di bawah kemudian digempur oleh pengambilan batu. Ini kemudian akan melemahkan struktur pertanahan. Jadi dampaknya, bisa terjadi longsor”  (Tempo.co).

Demam batu akik seakan menjadi dua sisi koin. Di samping berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat, eksplorasi batuan akik secara besar-besaran tanpa pertimbangan dampak lingkungan juga dapat membawa kerugian besar dalam jangka panjang.

Oleh sebab itu, aktivitas penambangan batu mulia perlu diatur secara jelas dan masyarakat yang menambang batu mulia pun perlu diedukasi dan diawasi untuk meminimalisir dampak terhadap lingkungan.

Cantik dengan batu mulia, tetap cinta dengan lingkungan!

 

Iklan

5 tanggapan untuk “Batu Akik, Dari Alam Kembali Ke Alam”

  1. Sama halnya dengan penebangan hutan,
    dampaknya akan dirasakan setelah hutan habis ditebang,

    Begitu juga batu akik,
    mungkin saat ini orang berlomba2 mencari batu sampai ke hutan,
    tapi suatu saat nanti,
    alam jadi tidak seimbang,

    Nice Post pak 🙂

    Suka

What do you think?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s